Thursday, June 6, 2013

My Impression for Some of Interview Experiences

     Dalam satu bulan belakang ini, saya dan teman-teman lain yang mengambil kelas Teknik Wawancara disibukkan dengan praktek wawancara di lab dengan tiga setting yang berbeda yaitu PIO, pendidikan, dan klinis. Kemudian juga kami diberikan tugas akhir untuk wawancara di panti yang telah ditentukan, dan saya beserta kelompok mendapatkan bagian wawancara ke panti RPLU, Jelambar. Pada saat pertama kali saya praktek wawancara di lab dengan setting PIO, saya merasa sangat gugup. Mungkin karena pertama kali praktek, jadi saya belum pernah merasakan dan rasa guguplah yang dominan timbul pada diri saya. Pada saat praktek setting PIO, saya merasa gugup, kurang lancar, dan kurang luwes pada saat pelaksanaannya. Saya takut bahwa waktu yang diberikan terasa lama dan pertanyaan yang saya tanyakan akan habis sebelum waktunya. Namun ternyata anggapan saya salah, justru pada saat di dalam lab dan proses wawancara berlangsung terasa cepat dan menyisakan banyak pertanyaan yang belum saya tanyakan. Dalam wawancara setting PIO, saya masih sering melihat panduan wawancara untuk fokus mengembangkan pertanyaan yang akan saya tanyakan selanjutnya pada klien, bahkan fokus pada panduan wawancara sehingga kadang fokus kurang tertuju pada klien saya. Attending behavior saya sudah cukup baik, namun kontak mata masih kurang karena saya sering melihat panduan tadi (karena tidak percaya diri dan gugup). Wawancara memang tidak terlihat kaku, justru mungkin terlihat agak rileks dan tenang di depan  klien dan observer, namun pada kenyataan yang saya rasakan sangat berbalik dengan apa yang saya tampilkan, saya amat gugup untuk praktek wawancara pertama yaitu setting PIO. Namun pada praktek wawancara pertama saya, meskipun gugup, saya tetap melakukan sedikit probing namun masih secukupnya, dan beberapa kali parafrase serta summarizing yang cukup baik.
     Beberapa hari setelah praktek setting PIO yang merupakan praktek pertama, saya dan teman-teman kelompok pergi ke panti RPLU untuk wawancara mengambil data. Sebelum pergi ke panti, saya sangat gugup karena tidak mengetahui keadaan, kondisi dan gambaran subjek di panti yang membuat saya menerka-nerka dan takut tidak berhasil dalam proses wawancara ini. Namun setelah sampai di sana, saya langsung mendapat subjek dan merupaka orang yang paling cepat untuk mendapatkan subjek bersama dengan Mellyta. Pada saat wawancara, saya terlalu fokus terhadap cerita dari subjek sehingga kadang terlupa dengan inti dari data yang akan saya ambil hehehe. Saya juga masih agak kagok dalam proses wawancara dikarenakan baru berpengalaman satu kali wawancara di lab. Namun saya leih rileks pada saat pelaksanaan wawancara ini dibanding pada saat di lab pertama kali. Pada akhirnya klien yang saya wawancarai lebih terbuka karena saya cukup baik dalam membina rapor. Kemudian kelas kami yaitu kelas C dijadwalkan berbeda dengan kelas-kelas lainnya yaitu lebih telat satu minggu, yang sebenarnya membuat saya kecewa karena itu membuat kami harus bekerja lebih cepat satu minggu dalam mengolah data dan menjadikannya laporan kelompok maupun individu.
     Kemudian pada wawancara kedua yaitu setting pendidikan, dalam pelaksanaannya saya jauh lebih rileks dan tidak segugup pada saat pertama kali karena saya sudah mengetahui gambaran mengenai proses wawancaranya. Pada praktek kedua ini, saya merasakan dalam proses wawancaranya lebih mudah dan pertanyaan yang saya berikan pada klien terlihat lebih natural dibanding sebelumnya yang sangat fokus pada panduan wawancara yang saya bawa. Namun saya masih kurang percaya diri jika tidak membawa daftar pertanyaan. Attending behavior yang saya lakukan juga sudah ada peningkatan, saya dapat lebih fokus pada klien serta memberikan kontak mata yang lebih baik daripada praktek sebelumnya dan lebih tenang dalam menghadapi klien. Saya mencatat hal-hal yang dirasa penting, dan berusaha melakukan probing dengan lebih baik, paraphrase dan summarizing .
     Lalu pada praktek wawancara ketiga yaitu setting klinis, saya kembali gugup dikarenakan menganggap wawancara dalam setting klinis sangat sulit. Namun tidak segugup pada saat praktek yang pertama. Setelah proses wawancara berlangsung, saya merasa sudah lebih biasa dalam pelaksanaan wawancara dengan klien, meskipun klien yang saya wawancarai bukan klien yang sebenarnya. Saya merasa jauh lebih rileks dan tenang serta percaya diri dalam wawancara dengan klien klinis saya. Meskipun setting klinis yang memang sulit dalam bayangan saya, namun karena saya sudah memiliki pengalaman beberapa kali wawancara sebelumnya, entah kenapa saya merasa jauh lebih baik pada saat wawancara klinis ini. Saya merasakan dalam proses wawancaranya lebih mengalir dan natural. Saya juga memberikan attending behavior yang baik serta melakukan probing dengan baik, serta paraphrase dan summarizing hingga waktu tidak terasa dan sangat cepat berakhir.

     Demikianlah refleksi dan kesan yang saya dapatkan dari wawancara yang saya lakukan, mudah-mudahan peningkatan yang saya rasakan dan dapatkan dari praktek-praktek ini dapat saya tingkatkan lagi lebih baik. Thankyou xoxo

Wednesday, March 27, 2013

Pentingnya untuk Mengetahui “Social History” Klien, Must Read This!


        Social History sendiri memiliki arti riwayat sosial. Tujuan utama mengetahui riwayat sosial klien adalah untuk dapat menggali informasi lebih dalam dan dapat menemukan informasi yang merupakan dasar masalah dari klien. Kemudian tujuan lain dari riwayat sosial adalah untuk mendengar persepsi dan melihat ekspresi dari klien mengenai perasaanya yang ditimbulkan dan berkaitan pada saat bercerita mengenai berbagai riwayat sosialnya, tentunya membantu menemukan akar masalahnya dimana klien merasa tidak nyaman pada hal tertentu di dalam riwayat sosialnya.
     Pada saat melakukan proses wawancara pertama dengan klien, interviewer pasti mewawancarai mengenai riwayat sosial klien. Ada beberapa area dari riwayat sosial yang harus diperoleh oleh interviewer yang saya rangkum dibawah ini, area yang dimaksud yaitu:
            1.    Family History
Riwayat keluarga, dengan siapa saja klien tinggal, masalah-masalah yang pernah terjadi di dalam keluarga, siapa saja anggota keluarganya, yang semuanya bertujuan untuk mengetahui apakah ada simptom yang memang juga terdapat pada anggota keluarga lainnya, apakah problem yang dimiliki klien merupakan keturunan secara biological atau tidak.
            2.    Educational History
Level pendidikan klien, yang dapat memberikan informasi mengenai pendidikan klien yang menggambarkan bagaimana performa akademik klien.
            3.    Occupational Training/ Job History
Pengalaman bekerja klien, untuk melihat apakah klien tipe orang yang sering berpindah pekerjaan atau tipe orang yang bertahan dalam suatu perusahaan. Apa motivasi dan apakah pekerjaannya sesuai dengan minat dan yang ia inginkan?
            4.    Marital History
Riwayat pernikahan klien. Apakah klien sudah pernah menikah sebelumnya, atau sudah pernah menikah berapa kali dalam hidupnya sampai sekarang, ataupun yang masih menikah sampai sekarang. Hal ini dapat membantu pewawancara untuk mempelajari bagaimana gambaran persepsi klien mengenai hubungannya.
            5.    Interpersonal Relationship/ Social Networking
Gambaran mengenai hubungan klien dengan dunia sosialnya, dengan teman-teman, rekan kerja, dan masyarakatnya. Hal ini dapat membantu pewawancara melihat pandangan klien mengenai bagaimana hubungan sosial seharusnya dilakukan.
            6.    Recreational Preferences
Menggambarkan mengenai bagaimana seseorang menikmati waktu liburannya untuk bersenang-senang. Karena jika terjadi masalah dalam hal ini seperti kurangnya waktu bersenang-senang, cenderung memudahkan klien untuk kecanduan alcohol, maupun obat-obatan terlarang.
            7.    Sexual History
Topik ini merupakan satu topik yang cukup sensitive untuk dibicarakan, sehingga pewawancara harus berhati-hati dalam menggunakan tata bahasanya. Dalam hal ini pewawancara dapat melihat apakah ada kemungkinan untuk terjadi konflik seksual di dalam hubungan klien.
            8.    Medical History
Riwayat medis yang dimiliki klien. Riwayat medis yang dimiliki keluarga, krusial terhadap riwayat medis klien karena besar peluang untuk klien diturunkan riwayat medisnya. Kemudian bila terdeteksi gangguan pada fisik klien, sebelum dilakukan psikolgis ada baiknya diobati secara fisik terlebih dahulu.
             9.    Psychotherapy History
Pengalaman mengikuti dan mendapatkan psikoterapi, apakah sudah pernah atau belum, jiksa sudah pernah ini member informasi mengenai penanganan terdahulu dalam psikoterapi klien.
            10.  Legal History
Riwayat hukum yang dimiliki klien, apakah klien pernah berurusan dengan hukum ataupun kepolisian, apakah klien pernah bertindak yang tidak sesuai aturan dan dipermasalahkan secara hukum. Hal ini dapat mengindikasikan jika klien pernah melakukan perilaku yang tidak seharusnya dan melanggar hukum, dapat dilihat patologisnya.
           11.  Alcohol and Substance Abuse
Riwayat apakah klien merupakan seorang yang memang suka meminum alcohol tidak berlebihan, dan bukan untuk mabuk-mabukan atau memang klien seorang pecandu alcohol.
           12.  Nicotine and Caffein Consumption
Riwayat mengenai pengkonsumsian nikotin dan kafein, apakah klien seorang perokok dan suka minum kopi.
           13.  Religion
Latar belakang agama dan kepercayaan yang di anut klien, disini dapat melihat apakah klien memiliki kepercayaan terhadap agamanya ataupun belum memiliki orientasi yang jelas.
     Kemudian ada yang perlu diperhatikan dalam proses pewawancaraan terhadap anak dan dewasa karena memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Yang pertama, area yang perlu di wawancarai pada proses wawancara dengan anak, yaitu:
       -  Childhood
       -  Growing Up
       -  Asking About Abuse
       -  Education
       -  Medical History
       -  Personality Trait and Disorder
       -  Family History
Sedangkan area penting yang perlu diketahui dari riwayat sosial dewasa adalah:
       -  Work History
       -  Legal History
       -  Religion
       -  Current Living Situation
       -  Social Network/ Interpersonal Relationship
       -  Marital Status
       -  Recreational Preferences
       -  Medical History
       -  Personality Trait and Disorder
       -  Family History
     Secara keseluruhan, area untuk anak dan dewasa membutuhkan riwayat sosial yang hampir sama. Namun perbedaan hanya terletak pada area yang memang belum dapat dilakukan pada anak-anak seperti riwayat kerja, marital status, dan komunikasi antar intrapersonal. Kemudian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi pewawancara yang baik dalam mendapatkan data mengenai riwayat sosial klien, diantaranya adalah:
       -  Dengarkan cerita yang dipaparkan oleh klien dengan seksama
       -  Jika diperlukan, berbicaralah hal-hal yang penting saja
       -  Jangan menginterogasi klien
       -  Perhatikan budaya, dan perbedaan yang ada pada klien kita
       -  Ajak klien untuk menceritakan ceritanya dengan jelas, menggunakan probing yang baik 

     Demikian tulisan saya kali ini mengenai pentingnya riwayat sosial dalam interview, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Sampai jumpa di lain kesempatan! Xoxo

Wednesday, March 20, 2013

Basics Important Things About Interview


     Hello everybody! Dari pelajaran yang saya dapatkan di kelas, saya akan sharing disini. Kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai beberapa hal dasar yang perlu untuk kita kuasai dalam wawancara. Sebenarnya wawancara itu simpel jika kita telah benar-benar menguasai hal dasar ini yang memang sangat penting untuk dimiliki agar menjadi seorang interviewer yang baik, namun semua itu juga perlu didukung oleh latihan terus menerus dalam peng-aplikasian wawancara tersebut.
     Agar menjadi pewawancara yang baik dan dapat menggali informasi dengan baik, kita memerlukan beberapa kunci utama, yaitu:
1.    Kemampuan membina rapport
Kita harus mampu memberikan lingkungan yang hangat, nyaman, untuk mendorong klien agar dapat berbicara dengan bebas dan jujur ​​tentang topik yang sesuai dengan wawancara.
2.    Empati
Untuk menghadirkan empati, kita harus tetap fokus pada klien anda setiap saat. Respon Empati memungkinkan klien Anda untuk mengetahui bahwa Anda menerima, memahami, dan dapat membantu mereka dalam menyelesaikan masalahnya.
3.    Attending behavior
Kunci dari attending behavior adalah memberikan kesempatan pada klien untuk berbicara, dan menceritakan tentang diri mereka, dengan mengurangi kesempatan kita untuk berbicara lebih banyak. Karena kita tidak dapat menggali informasi jika kita terus berbicara dan hanya sedikit memberikan kesempatan terhadap klien.
4.    Teknik bertanya
Teknik bertanya dalam wawancara ada dua macam, yaitu:
-       Open Question
Bersifat tidak mengarahkan, dan klien dapat lebih bebas mengutarakan perasaannya dan kita mendapatkan informasi yang lebih banyak dari klien.
-       Closed Question
Bersifat mengarahkan, dan biasanya merujuk pada jawaban tertentu dan jawabannya bersifat pendek seperti “ya” atau “tidak”.
     Namun dalam teknik bertanya, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dan bersifat menyakiti klien, seperti:
·         Being Intrusive
Seperti memaksa klien untuk bercerita atau berbicara, karena dapat mengganggu, menghilangkan respek dan kepercayaan klien terhadap kita.
·         Interrogating The Client
Menanyakan hal-hal yang tidak penting, di luar kebutuhan data, ataupun yang bersifat personal, karena dapat membuat klein takut bercerita dan menutupi informasi yang justru penting.
·         Controlling Client Explores
Tidak mengontrol emosi klien, biarkan saja klien mengungkapkan seluruh emosi dan perasaannya tanpa bertanya terus menerus dan diulang.
·         Satisfying Interviewer’s Need
Tidak bertanya hal yang tidak dibutuhkan, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu kita, karena membuat klien merasa terganggu.
5.    Keterampilan observasi
Keterampilan observasi, fokus pada 3 area, yaitu:
v  Perilaku Non-verbal
Seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh klien. Dan yang paling penting, hindari stereotype hanya dari penampilan atau perilakunya.
v  Perilaku Verbal
Fokus terhadap hal yang diceritakan oleh klien, kemudian perhatikan kata-kata yang menjadi key words dari masalah klien.
v  Konflik, diskrepansi, dan inkongruensi
Kita harus mewaspadai terjadinya ketidak sesuaian antara tindakan verbal dan non-verbal klien pada saat wawancara. Inkongruensi dapat memperlihatkan bahwa klien merasa tidak nyaman ataupun berbohong pada saat wawancara.
6.    Active listening
Active listening terdiri dari:
o   Encouraging
Yaitu variasi secara verbal ataupun non-verbal yang diberikan kepada klien agar mendukung klien untuk cerita lebih banyak. Memberikan ekspresi yang tertarik dengan cerita yang dipaparkan klien, lalu memberikan probing agar klien menceritakan lebih banyak hal, kemudian beri kesempatan klien untuk bercerita lebih banyak dan kita mendengarkan.
o   Paraphrase and reflection of feeling
Paraphrase yaitu focus pada hal yang akan kita selesaikan nantinya, kemudian meberikan refleksi kalimat klien namun tidak mengulang-ulang kalimat yang diucapkan oleh klien. Kemudian jangan me-label klien dengan kata emosi seperti sad, scared, dll.
o   Summarizing
Menyimpulkan cerita yang telah dipaparkan oleh klien, dapat digunakan untuk klarifikasi akan hal-hal yang klien ceritakan.
So Guys, Inilah beberapa hal penting yang harus kalian kuasai dalam wawancara, pelajari dengan baik ya! Thanks for the attention J

Sunday, March 10, 2013

............

God, it can't help anymore and i don't know what should i do!!!!!! I hate this feeling for sure. I don't understand, and i can't accept that eventough i keep trying YaAllah. Why??? Please tell me what to do, it's hurt. It left scars here, and really hurts God. """"""""""""((((((((

Saturday, March 9, 2013

I Hate Saturday Night

     Good evening everybody! Well, it's a night at saturday which people call uhmm.... saturday night. Yeah, some people or couple will go out at their own saturday night. But not for me. I don't know why, either my boyfriend doesn't like to go out at saturday night, or i'm to boring to meet with "the crowded"of Jakarta. I just want to lay here, do something lazy at my room, and forget about the assignment and the others task! :( 
     Honestly, i miss my boyfie. I just want him to be here right now and do nothing with me, just the two of us and nobody else. I miss our time together, yeah since 2 weeks ago we not meet after my birthday and he gave me a birthday present :"""( 
     I know and i have to understand the position of me and my boyfie isn't easy. I'm busy with all my colleague stuffs, and so is he. He keep busy with his working stuffs, and his hobby, and sometimes his routinites killing me. I don't wanna be fake girlfriend who always try to be good and never complain, because of i care of our relationship and want to make it better, i often tell this problem to my boyfie. 
     Sometimes.... I feel like, nothing can i do, i just can do complaining over an over instead of making it better :"( And after that i always feel guilty to make my boyfie confuse with all of my "complain". But i know, he never blame on me and always give me an understanding that "We're an adult couple, so we have to understand and walk on our relationship like an adult.. not like a child. We don't need to communicate 24hours a day, we just need to put our believe and faithfulness for each other, that's all". Ya, I understand... really :"") I just cannot accept this situation sometimes hehe. Oh i hate my self.

Wednesday, March 6, 2013

Tugas Review Tekhnik Wawancara (Bag.Klinis)



Febriani Sifa Amalia
705100095
Kelas C
Tugas Tekhnik Wawancara
Review Presentasi Wawancara Psikolog Klinis
     Pada tugas kali ini, wawancara terhadap piskolog klinis dewasa dan anak, masing-masing dilakukan oleh dua kelompok. saya mulai dengan review kelompok pertama:

Kelompok Psikolog Klinis Dewasa

Kelompok klinis dewasa yang pertama:
     Subjek menjelaskan mengenai pentingnya pemahaman kita mengenai wawancara. Karena  wawancara merupakan alat atau modal utama bagi para lulusan sarjana psikologi yang benar-benar harus dikuasai. Kemudian untuk melengkapi kemampuan dasarnya, untuk lebih mengenal kliennya seorang psikolog memerlukan wawancara dan observasi, serta alat tes sebagai tambahannya untuk memperkuat asumsi. Subjek menggunakan tekhnik wawancara karena tidak butuh tes yang banyak dan rumit, serta hanya perlu menguasai tekhnik wawancara yang baik. Prosedur pada saat wawancara dilakukan oleh subjek tidak terstruktur, tidak menggunakan panduan wawancara, memberikan pertanyaan berkembang dari jawaban-jawaban klien, dan tidak menggunakan alat perekam. Kendala yang dihadapi subjek pada saat praktek, biasanya klien tidak menepati janji atau tidak hadir tepat waktu, dan karena tidak menggunakan alat perekam, subjek terkadang lupa. Wawancara yang baik menurut subjek yaitu diperlukan latihan terus menerus dikarenakan membutuhkan jam terbang yang tinggi untuk menjadi seorang pe-wawancara yang baik, lalu pewawancara yang baik juga focus terhadap klien dan aware.
     Pada subjek kali ini, terlihat agak berbeda dan memiliki caranya tersendiri dalam proses wawancara klien. Subjek terlihat menggunakan cara yang lebih santai dan kurang formal. Menurut saya tipe prosedur wawancara seperti ini tidak bagus untuk dilakukan oleh seorang psikolog muda yang baru saja lulus, karena mereka belum memiliki jam terbang yang tinggi dan belum betul-betul menguasai berbagai hal. Namun sebaiknya, untuk para psikolog gunakanlah tata cara atau metode yang memang sudah ada sebelumnya untuk hasil yang lebih baik.    

Kelompok klinis dewasa yang kedua:
     Subjek menjelaskan mengenai wawancara yang merupakan sebuah kegiatan yang melibatkan suatu proses tanya jawab yang tidak terbatas dan memiliki tujuan yang berbeda-beda misalnya untuk pekerjaan, ataupun mencari data dalam psikologi klinis. Wawancara dapat dilakukan empat mata, ataupun wawancara oleh satu orang terhadap orang banyak. Menurut subjek, tujuan dalam penggunaan teknik wawancara adalah untuk mengetahui suatu permasalahan kemudian membuahkan hasil atau solusi/penyelesaian dari permasalahan yang dihadapi. Menurut subjek, wawancara sangat penting sekali untuk menggali informasi dari dalam diri seseorang, karena alat ukur yang utama itu menurut subjek adalah  wawancara tentunya diiringi dengan observasi.
     Prosedur pada saat pelaksanaan wawancara menurut subjek yaitu, menyiapkan daftar pertanyaannya (pedoman wawancara) kecuali seseorang yang sudah berpengalaman biasanya tidak membuat daftar pertanyaan. Kemudian pewawancara harus mengetahui dasar ilmu yang akan ditanyakan. Dalam wawancara juga harus menggunakan 3 indera sekaligus dengan baik untuk menangkap informasi yang ada yaitu menggunakan mata, telinga dan tangan. Menurut subjek, kelebihan dari teknik wawancara dibandingkan dengan teknik lain yaitu dapat menggali informasi yang lebih dalam mengenai klien ataupun masalah yang sedang dihadapi klien. Namun kekurangan teknik wawancara yaitu ada beberapa aspek yang tidak muncul ketika digali ketika wawancara karena ingin memberikan kesan baik atau yang lainnya.

 Kelompok Psikolog Klinis Anak

Kelompok klinis anak yang pertama:
     Subjek menjelaskan mengenai wawancara yang memiliki arti teknik yang dipakai untuk menggali informasi dari subyek atau dari orang yang ingin diketahui. Teknik wawancara digunakan oleh subjek di setiap jenis pekerjaan yang dilakukannya, khusunya yang berkaitan dengan profesinya sebagai psikolog klinis. Kelebihan dari teknik wawancara adalah prosesnya mendapatkan data lebih cepat dibandingkan dengan teknik lain, kemudian informasi yang diinginkan langsung didapatkan saat itu juga. Sementara kekurangan dari tekhnik wawancara biasanya terjadi kesulitan yang berasal dari subyek yang agak menutup diri dan kurang kooperatif pada saat wawancara.

Kelompok klinis anak yang kedua:
     Subjek menjelaskan mengenai wawancara yaitu suatu tekhnik untuk menggali informasi mengenai seseorang. Prosedur tekhnik wawancara yang dilakukan subjek dijelaskan pertama-tama melalui screening dengan orangtua terlebih dahulu, membina rapport, lalu baru mewawancarai sang anak. Kelebihan dalam tekhnik wawancara menurut subjek, dapat dengan mudah mendapatkan informasi, namun kekurangannya adalah dari informasi tersebut belum tentu semuanya benar dan akurat. Saran dari subjek terhadap kita para calon psikolog yaitu banyak latihan/belajar wawancara terus mengasah kemampuan, harus percaya diri, dan yang terpenting harus memiliki panduan pertanyaan wawancara.

Miss my teenagers life!

It's been a while... since a year ago maybe? I never wrote any blog anymore, i just keep tumblr-ing bcs that's more simple than writting a blog :p Anyway... Now i feel like.. literally sad, and bit broken. No, it's not because of anka, we still ok until now :""") I just feel like, little bit shock about life. I'm 21th and never gonna be 15th anymore, and I hate that!!!!!! Moreover, one years later i have to be join in "adulthood life" who have to work and cannot playin like a child anymore :( But i have to!! I'm gonna be stronger, smarter, passion-er haha. Just keep up going & good luck for my self! :)